Ada yang mencengangkan di Semarang. Ada UFO yang terlihat menampakkan diri. Meskipun hanya terlihat seperti UFO. Ini bukan berita bohong atau asal-asalan lho..
coba tengok saja.
Posts Tagged ‘semarang’
Look Ma, It’s An UFO
Monday, January 25th, 2010Look Ma, Nice Fushion!
Saturday, January 9th, 2010Pernah tahu camilan sedang, tidak ringan, tidak juga berat yang berbentuk martabak manis kecil, tipis isinya pisang? Semodel dengan crepes yang dijual secara franchising itu. Di Semarang, camilan ini terkenal dengan nama kue lekker. Dari bahasa belanda yang artinya enak. terbuat dari adonan terigu, yang dipanaskan dengan loyang kecil, kemudian isinya berupa potongan pisang kecil-kecil dan remahan kacang tanah, ditaburi muisjes (meses) dan disiram dengan susu kental manis. Khas jawa banget pokoknya.
Lalu menariknya dimana?
Look Ma, It’s Fushionary!
Tuesday, October 13th, 2009Di Kota Semarang, ada beberapa restoran yang masih tetap melayani pengunjung dari puluhan tahun lalu. Salah satunya adalah Restoran Danti, sekaligus bakery. Sejak kedua orang tua saya kuliah di Semarang, restoran ini sudah menjadi satu dari sekian jejeran restoran top di Semarang. Konon, dulu namanya Danish.

Lalu apa yang spesial dari restoran ini? Sehingga mampu bertahan begitu lama?
Look Ma, Trans Semarang!
Saturday, October 3rd, 2009Setelah Jakarta dan Jogjakarta yang mempelopori shuttle city bus, sekarang giliran Semarang yang meluncurkan moda transportasi serupa. Meskipun peluncurannya sudah dilaksanakan bulan Mei 2009 lalu, bertepatan dengan hari jadi kota Semarang, sempat vakum beberapa bulan. Hingga akhirnya pada hari jum’at, beberapa hari sebelum lebaran 1430 Hijriyah, beroperasi kembali, hingga tanggal sekarang.
Look Ma, No Mercy!
Saturday, August 29th, 2009Tanpa ampun! kalimat yang cocok untuk seseorang yang tersalahkan, penerima hukuman dari yang lebih kuat tanpa belas kasihan. Bagaimana jika ‘yang-tak-diberi-ampun’ itu seorang raja? Bisa jadi raja tersebut berbalik murka ataupun itu memang kehendak sang raja, artinya raja tersebut memang menyerahkan dirinya untuk ‘tak-diberi-ampun’.
Kebanyakan penjual, penjual apa aja, beranggapan bahwa pembeli adalah raja, yang harus dilayani hingga sang raja merasa nyaman dan tak sungkan dan tak ragu untuk kembali dihari lain.
Jadi sekarang, bagaimana jika pembeli yang ‘tak-diberi-ampun’? Salah apa si pembeli? Atau apa yang dilakukan pembeli, hingga dia mau ‘tidak-diberi-ampun’ oleh sang penjual?



