Pernah menggunakan jasa transportasi pesawat terbang ketika malam hari? Atau mendarat ketika hari telah gelap? Pasti lampu kabin dimatikan atau ketika sesaat matahari telah tenggelam, lampu kabin diredupkan, pada saat tinggal landas dan mendarat.

Jika Kamu belum pernah menggunakan transportasi pesawat terbang, dan ketika suatu saat nanti kejadiaan, tak perlu panik. Itu memang prosedur keselamatan. Bagi yang sudah pernah mengalami, jadi tahu sebab dan alasannya, tidak lagimenyalahkanPLN menebak-nebak alasannya.
Pada saat sekali penerbangan (gate-to-gate) saat yang paling krusial adalah ketika take-off dan landing. Misalkan pada penerbangan malam hari terjadi aborted take-off atau overshoot, yang mengharuskan penumpang dievakuasi keluar, penumpang dapat melihat lingkungan sekitar dengan jelas. Kalau dengan perandaian, jika kamu berada di studio foto yang terang benderang, kemudian tiba-tiba lampu mati, apa yang terjadi? Yap, blackout.
Jadi, jika lampu dalam kabin dimatikan atau diredupkan, agar menyesuaikan dengan kondisi pencahayaan di luar. Kalau tidak percaya, nyalakan saja lampu baca yg di atas kepala, maka jendela pesawat akan seperti cermin. Segala yang ada diluar tak akan nampak, bayangkan jika lampu kabin yang menyala.
Kemudian ada lagi, ketika pada siang hari, pada penerbangan jauh (long haul), Kamu diminta oleh flight attendant untuk menutup window shade, atau penutup jendela, terutama pada bagian yang menghadap matahari.
Dulu saya pernah dari Changi, Singapore ke Schipol, Amsterdam, berangkat siang hari, jadi dengan kecepatan sekitar 800 kpj, seakan-akan saya mengejar matahari yang akan terbenam di Barat. Dua kali saya diingatkan oleh pramugari untuk menutup jendela, karena dasarnya pengen foto-foto, saya buka lagi, diingatkan lagi
.
Ternyata alasannya adalah radiasi sinar UV, ketika berada 12 km diatas permukaan laut, efek sengatan sinar UV bisa jadi sangat berbahaya, meskipun saya belum dapat informasi tentang penelitian tersebut, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati. Kemudian yang menjadi alasan adalah faktor jetlag.
Nha, ketika pulang dari Amsterdam itu saya merasakan yang namanya jetlag. Brangkat dari sana tengah hari, karena menjauhi matahari, maka siang jadi lebih pendek, kebayang dong, baru duduk 4 jam udah gelap gulita, udah disuruh tidur. Ketika bisa tidur 2 atau 3 jam, sudah dibangunin untuk sarapan, tau-tau mendarat di Singapore udah jam 10 siang, lanjut ke Jakarta, lanjut lagi ke Solo, nyampe Solo jam 2 siang, langsung tidur bangun-bangun jam 12 malam. Woooiiii mana sarapannya kok belom ada?


oleh2nya manaaaaa????
ariw Reply:
May 1st, 2010 at 00:47
itu oleh2nya.. crita..
picture kurang sesuai dng judul,, harusnya foto kabin gelap gulita
btw keren, masing2 sheat ada tipinya yah,, wiih
i’m here… amsterdam , good place for holiday .. *catet dalam agenda liburan*
Lha foto-fotonya di Amsterdam mana??
wah nek aku ngerti kowe nang londo, aku titip kostum Ajax
ariw Reply:
May 1st, 2010 at 00:38
waa ning londo mung transit tok kang..
That was a very good read,I count on some more post from you.
Nice info. Dan kini ku tahuuuuu….
Thanks ya, izin mau share di fb ya.
@Aryanst: sok atu kang.. berbagi ndak pernah mbayar kok..
jadi, kapan?
bingung…hhehehe…bentar tak ulangi baca lagi
sesuk nek numpak montor mabur aku diajak ya om!!
wah2 keren,,, blum pernah saya naik pesawat sekalipun,,, jadi pengen,,,