Look Ma, It’s Fushionary!

October 13th, 2009

Di Kota Semarang, ada beberapa restoran yang masih tetap melayani pengunjung dari puluhan tahun lalu. Salah satunya adalah Restoran Danti, sekaligus bakery. Sejak kedua orang tua saya kuliah di Semarang, restoran ini sudah menjadi satu dari sekian jejeran restoran top di Semarang. Konon, dulu namanya Danish.

Lalu apa yang spesial dari restoran ini? Sehingga mampu bertahan begitu lama?

Selain bakery yang terkenal gurih dan lezat, steak nya juga terkenal. Antara lain T-Bone steak dan steak buntut. Yang jadi favorit T-Bone steak, unggul pada kualitas daging, hasil bakaran dan tentu saja porsinya. Serius, porsinya sungguh kelewat besar. Sayangnya waktu itu sedang not available, maklum steak unggulan. Akhirnya pilihan jatuh pada steak buntut. Ekspetasi sih seperti buntut panggang umumnya.

Selagi pesanan disiapkan, kita disajikan menu pembuka berupa roti manis khas Danti dan plain butter dan setoples kecil kacang telor agar tidak bosan menunggu pesanan datang. Kacang telornya boleh dihabiskan lho..

Begitu steak buntut disajikan di hadapan, ekspetasi saya tadi yang menganggap seperti buntut panggang kebanyakan langsung sirna. Bagaimana tidak, disajikan diatas hot plate, aroma BBQ begitu semerbak. Apalagi ditemani nasi putih yang pulen-ngepul-ngepul. Itu belum seberapa kalo belum disiram brown sauce. Dilengkapi dengan kuah sup buntut. What a wonderful lunch!

Sungguh sebuah perpaduan sempurna, antara kuliner khas Indonesia bergaya eropa. Fushion yang hebat. Karena saya minta dibakar hingga well done, saus BBQ nya meresap hingga ke serat daging. Saya kurang suka menyantap steak yang dibakar medium apalagi rare.

Dagingnya empuk, tidak terlalu liat. Hangatnya masih terasa hingga ke dalam daging. Sensasi manis membangkitkan selera makan. Apalagi kalo dibarengi menyeruput kuah sup buntut, sekali lagi, the best fushion ever i had. Jangan sungkan untuk menggamit tulang dan menggerogoti daging yang masih menempel, karena bagaimana pun, ini tetap kuliner khas Indonesia.

Lalu berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk merasakan fushion ini? Empat puluh enam ribu rupiah, termasuk pajak. Ya, cukup mahal. Tapi sebanding.

Eh, tunggu dulu. Jangan kecewa. Begitu selesai menyantap steak ini kamu akan diberikan diskon 50%. Ah, tenane? Beneran, potongan harga sebesar 50% dari harga yang harus dibayarkan. Tapi pasti pake embel-embel syarat kan? Ya iya lah, 2009 geto loh.. Syaratnya, cukup bayar dengan tunai. Kalau pake kartu kredit atau debit, diskonnya cuman 25%.

Jadi, jangan heran kalau restoran ini masih bertahan puluhan tahun.

Tags: , ,

15 Responses to “Look Ma, It’s Fushionary!”

  1. mizan says:

    Damn… ngiler tengah malem

  2. koprilia says:

    tak balike bacanya kok ga ada alamatnya

  3. ariw says:

    @ choprilia : klo ada alamate, disangka ngiklan.

  4. hedi says:

    kenapa ga sekalian aja dibuat harganya 30 ribu, ga perlu pake embel2 diskon segala :D

  5. Niff says:

    lah kapan kita nyerbu situ?

  6. didut says:

    pasti dalam rangka yg ituh ini kekekeke~

  7. memble says:

    Wahhhh … ngilerr …

  8. memble says:

    MauuuuWWWWWWWWWWWWWWWWW….

  9. budiyono says:

    iki meh ntraktir??

    1. budi.
    2. ….
    3. ….
    4. ….
    5. ….

  10. akira says:

    uhmm.. it’s not really my fav food, but it looks delicious n is at affordable price as well. i’ll put it on my list. :)

  11. el_afiq says:

    ndak iki sing ning pandanaran?

  12. slams says:

    astagpiluwohhh ces ces ces bikin ngiler mas cessssssss tuhhh kan keluar juga hhehehhee
    soup ma daginya bikin ngiler dah
    manthapp

  13. Kang Supri says:

    Walah kalau buat anak kos kayak saya, miskinlah dunia… tapi kalo ditraktir ayuk… mau.. mau.. inyong seneng baca-baca artikel yang ada disini, lagi belajar neh, masih mau tukeran link dengan diriku gak kang? makasih sebelumnya…

  14. chie says:

    jadi…pada intinya…hargax 23rb gtu?????? :lol:

  15. Blogie walking neh sambil memperkenalkan pernikahan adat yang ada di Indonesia.

Leave a Reply