Setelah Jakarta dan Jogjakarta yang mempelopori shuttle city bus, sekarang giliran Semarang yang meluncurkan moda transportasi serupa. Meskipun peluncurannya sudah dilaksanakan bulan Mei 2009 lalu, bertepatan dengan hari jadi kota Semarang, sempat vakum beberapa bulan. Hingga akhirnya pada hari jum’at, beberapa hari sebelum lebaran 1430 Hijriyah, beroperasi kembali, hingga tanggal sekarang.

Meskipun ide dan konsepnya meniru Transjakarta dan Transjogja. Ada beberapa persamaan dan perbedaan. Perbedaannya, tidak menggunakan jalur tersendiri seperti Transjakarta. Persamaannya, bisnya nyaman dan enak.
Setelah lebaran kemarin, saya mencoba Bus Rapid Transport Semarang (BRT Semarang) ini.
Setelah sebelumnya memasukkan motor saya di bengkel AHASS yang mendapat nomor antrian ke-33. Merasa bosan menunggu, saya akhirnya mencoba BRT Semarang. Menunggu di shelter AKAFARMA. Shelter-nya tak besar kira-kira seukuran 2 x 6 meter. Hanya Shelter di depan Balaikota yang ditunggui petugas tiket, sisanya tak dijaga.
Begitu BRT pertama tiba, langsung saya naik, awalnya si supir kurang menepikan kendaraaannya, yang membuat saya melangkah lebar untuk memasuki kabin. Pikir saya, jikalau ada wanita yang menggunakan rok cupet pasti gak bakal bisa melangkah. Ternyata ada lidah pijakan, yang bisa ditarik keluar-masuk.
Tarifnya Rp 3500 untuk penumpang umum, dan Rp 2000 untuk yang berseragam sekolah. Dari Mangkang hingga Penggaron. Tetapi jika sudah sampai Mangkang atau Penggaron, harus turun dari bis, tidak bisa berdiam diri bagi yang ingin jalan sekali sortie lagi. Jadi, saya jalan-jalan dari Karangayu- Mangkang- Penggaron- Karangayu. Lumayanlah, ngadem.

Dengan tarif segitu, saya jadi berpikir, bagaimana dengan angkutan umum swasta? Ternyata angkutan umum swasta yang melayani pada trayek yang sama, tidak mau kalah perang tarif, mereka berani mematok tarif Rp 2000, jauh maupun dekat. Wow, benar-benar menguntungkan konsumen. Tidak hanya konsumen, supir bis swasta pun juga ternyata malah diuntungkan. Dengan murahnya tarif angkutan, banyak masyarakat yang memilih moda transportasi ini, bahkan keuntungan yang didapat bisa 100% lebih (Suara Merdeka, 2 Oktober 2009). Tapi yang pasti, BRT ini masih merugi, yakin wis.
Setelah mencoba BRT, ada beberapa hal yang harus disempurnakan. Antara lain, informasi tentang letak shelter-shelter yang kelak memudahkan penumpang yang bukan warga asli Semarang. Kemudian, bentuk fisik tiket yang masih berupa karcis, lebih hemat jika berupa kartu yang dapat dipakai ulang seperti pada Transjakarta.
Disamping itu, BRT bisa menjadi pilihan utama transportasi di Semarang kelak, jika jumlah armada ditingkatkan, sehingga dapat memangkas waktu tunggu di shelter. Tapi beneran lho, bisnya uenaak, suspensinya nyaman, penyejuk udaranya dingin, pramugarinya cakep-cakep lagi..
Post via Windows Live Writer
Tags: brt, bus rapid transport, semarang, trans semarang




wedan mewah dan murah
moga harga makanan juga ikut turun dengan murahnya transportasi di semarang
ngertii tokkkkk
wah trayekke jek mangkang penggaron, trayek semarang babadan gak ono, tetep belom perfect
gak sampe atas yah? *demn*
Semoga semarang semakin adem dengan bertambahnya BRT.
*ngadem moide on*
jiahh,, kemaren pas pulang lupa nyobain BRT…
*nunggu liburan*
Menurutku kurang efektif ya klo murah tapi gak bisa transit gratis. Mending dinaikin dikit tapi transit gratis.
sing penting…… kondekture ayu… ayu….
Wah, duduknya nyamping yak?
Siep2 plester puser ben ra mabuk kiii….:D
Saya ke Semarang dua minggu lalu dan melihat shelter-shelter yang masih kosong. Sekarang saya antusias banget kembali ke Semarang buat nyoba BRT itu..
Ehm… kayaknya kurang akurat tuh komparasinya dg transjakarta. Apalagi kalau naik transjakarta pas jam sibuk. Full bergelantungan..
kalo masih baru keren ya…
eh …. piknik pake trans semarang lagi yuuks ??
nice artcle…this is my latest post in my blog, please read this http://edywinarno.com/?p=1017 (Membuat ‘center’ tampilan logo di blog)